Belajar dari Tokoh Azzam dalam KCB

Abdullah Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang datang jauh-jauh dari pelosok desa di pulau jawa untuk melanjutkan studinya di Mesir. Azzam, demikian nama panggilan pemuda itu, adalah seorang pekerja keras. Ia memiliki beberapa adik yang harus dibiayainya, hingga dengan kekhlasan hati ia harus berkorban dengan menjadi penjual bakso dan pembuat tempe. Ceritanya penuh dengan romantika yang sarat dengan hikmah. Isinya bagus serta dapat mengajari kita soal hidup, cinta dan bagaimana mengatur skala prioritas dalam mengambil tindakan. Tersebutlah bahwa Azzam adalah mahasiswa Indonesia di Al Azhar, yang belajar disana karena berhasil memperebutkan beasiswa dari Departemen Agama. Ia adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir dari kalangan keluarga pas-pasan.
Kecerdaan Azzam kian terbukti tatkala di tahun pertama menimba ilmu di Al Azhar ia memperoleh predikat jayyid jidda (istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari Majlis A’la.

Namun ditahun kedua, ayahnya yang tinggal di Indonesia meninggal dunia karena kecelakaan. Sepeninnggal ayahnya, ibunya sering sakit-sakitan. Padahal di Indonesia, ketiga adik perempuannya belum bisa diharapkan membantu ibunya karena baru beranjak dewasa. Yang seharusnya membantu ibu dan adik-adik nya di Indonesia adalah Azzam. Sebab dia adalah sulung di keluarganya. Azzam menyadari itu. Maka sejak saat itulah ia mengalihkan konsentrasinya. Dari belajar ke bekerja. Ia di Cairo, bekerja sambil belajar.
Pekerjaan yang dilakukan Azzam untuk menghidupi keluarganya di Indonesia adalah berbisnis tempe dan bakso. Karena lebih fokus ke bisnis, hasilnya prestasinya semakin lama semakin menurun, beberapa kali tidak naik tingkat, padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir tapi belum lulus S1. Meskipun pada akhirnya lulus juga dengan predikat yang tidak mengecewakan, jayyid. Namun disisi lain di belahan Indonesia, keluarganya suskes berkat motivasi dan biaya hidup darinya. Adik-adik nya semua “menjadi orang”.

SubhanAllahwal-hamdulilah, wa la ilaha ila Allah wa Allahu akbar
hampir serupa dengan cerita di atas

Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah setengah baya. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. “Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh…saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore untuk menengok anak saya yang ke dua”, jawab ibu itu. “Wouw… hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.
Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya?” “Oh ya tentu”, si Ibu bercerita : “Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat berkerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, dan yang ke tujuh menjadi Dosen di sebuah perguruan tinggi terkemuka Semarang.”"
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. “Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ?” Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, “Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.” kata sang ibu.
Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu… mungkin ibu agak kecewa ya dengan anak ibu yang pertama, karena adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi seorang petani?”
 Apa jawab sang ibu..???

 Dengan tersenyum ibu itu menjawab :
“Ooo …tidak, tidak begitu nak. Justru saya SANGAT BANGGA dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”
Pemuda itu terbengong….


tidak banyak orang yang diberi kesempatan seperti beliau dan Allah telah pilih org2 seperti beliau, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui sedangkan engkau tidak

LAPIS LAPIS KEBERKAHAN

…Mari kembali kepada pertanyaan ibunda kita, Sang Khumaira’. Apa yg berat bagi kekasih Allah (Muhammad SAW)melebihi hari uhud ketika 3 cincin rantai besi menancap di pelipisnya, perangkap tajam mencocor lututnya, dikabarkan terbunuh hingga cerai-berai pengikutnya, kehilangan Paman tercinta, dan 70 Shahabat setianya menjadi syuhada?
Hidupnya yang penuh lika-liku dan luka ta[I tanpa leka itu, terlalu panjang untuk memeriksa satu demi satu jawabannya. Tapi kita tahu, yang berat baginya bukan lemparan batu, bukan kala dia ruku’ lalu lehernya dijerat, bukan juga sat dia bersujud kemudian kepalanya diinjak dan punggungnya dituangi kotoran. Yang berat baginya bukan caci maki fitnahdan cela makian, bukan tuduhan gila, penyihir atau dukun bukan juga tiga tahun kafakiran dalam pemboikotan
Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah kala wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya (Saat hijrah ke Thaif) digenggam penuh-penuh (saat malaikat penjaga gunung itu berkata Ya Rasulullah, Ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir dan menyakitimu)… Yang berat adalah ketika gemuruh sakit lahir dan batin, peluang pelampiasan dibentangkan baginya
Terujilah jiwanya, terbuktilah cintanya dan tertampaklah kemuliaannya. Dia menolak dengan harapan memuncak atas kebaikan yang masih kelak. Dia sebenarnya diizinkan, dihalalkan, dan diridhai untuk berkata ‘Ya’; lalu gemuruh runtuh gunung Aksyabain yang menimpa musuh ‘menghiburnya’
Tapi keputusannya adalah ‘Tidak’ Dan harapannya adalah ‘jika pun mereka ingkar, semoga keturunannya yang kelak beriman”. Keduanya telah menjadi bukti bagi namanya , Muhammad, yang terpuji di langit dan di bumi

Ialah hujah, bahwa dia ingin diutus sebagai pembawa kasih dan bukan penyebab adzab; Allah bahkan menyatakan dirinyalah rahmat bagi semesta alam. Bahwa dia dating dengan kesediaan menanggung derita umatnya, amat menginginkan kebaikan bagi mereka. Serta lembut dan welas asih. Bahwa dia berada di atas akhlaq yang agung; baik dalam akhlaq pada Rabbnya, akhlaq pada dirim\nya juga pada shahabat maupun musuhnya. Jernih sekali Nabi menyebut hari terberat; ketika jibril dating menawarkan pembinasaan musuh. Itulah saat kemuliaan dakwah memerangi batin yang gemuruh.

Part 1 -> catatan Prolog 

RINDU TANAH SUCI

Rindu-rindu aku rindu tanah suci, hanya bisa ku tatapi gambar ini
entah kapan Engkau undang, seribu tahun pun ku nanti
sepanjang hidupku akan kunanti

Air mata selalu saja berjatuhan, setiap ku tatap ka'bah Mu ini
entah kapan Engkau undang, seribu tahun pun ku nanti
sepanjang hidupku akan kunanti


Dalam sujud, dalam doa,dalam dzikir di hatiku
selalu terbayang-bayang, selalu terkenang-kenang

Dalam mimpi, dalam sepi, dalam tangis di ujung malam
selalu terbayang-bayang,selalu terkenang-kenang

Aku rindu tanah suci...
(Aden EdCoustic, Fika Mupla, Teddy Snada - Rindu Tanah Suci)









APAKAH HARTA KITA BERKAH?

Semakin banyak rezeki yg diberikan kepada kita, semakin kelapangan diberikan kepada kita, seharusnya semakin bertambah ketaatan kita... semakin bertambah kedekatan kita pada Nya...semakin bertambah kedermawan kita, semakin rendah hatinya kita...semakin peduli dan semakin kuat memperjuangkan agama ini.
Bismillah
Sahabat sekalian, pertanyaan mendasar yang seharusnya kita tanyakan adalah 'apakah harta saya berkah'?
Bagaimana cara agar rezeki kita bertambah?
Allah SWT berfirman
“…Lain-syakartum la aziidannakum walain-kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.”
Artinya : “….Sesungguhnya jika kamu BERSYUKUR, niscaya Aku akan MENAMBAH (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu MENGINGKARI (nikmat-Ku) maka sungguh ADZAB-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim 14:7)
Semakin kita bersyukur maka Allah janjikan tambahan rezeki bagi kita, tapi sudah kah kita bersyukur?
Hakikat kesyukuran tersebut tidak hanya tersampaikan secara lisan, tetapi dihayati dengan hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan (tindakan). 
Jangan-jangan kesyukuran kita selama ini hanya berhenti di lisan saja, namun hati dan perbuatan kita jauh dari sikap seorang yang bersyukur...naudzubillah min dzalik... smg Allah senantiasa membimbing kita
So, instrospeksi sederhana yang dapat kita lakukan adalah sejauh mana amal perbuatan kita(tindakan) kita sehari-hari atau cara kita memanfaatkan harta (rezeki) yang Allah berikan, sudahkah mencerminkan bentuk kesyukuran kita kepada Allah SWT?
Karena selayaknya Semakin banyak rezeki yg diberikan kepada kita, semakin kelapangan diberikan kepada kita, seharusnya semakin bertambah ketaatan kita pada Nya...semakin bertambah kedermawan kita, semakin rendah hatinya kita...semakin peduli dan semakin kuat memperjuangkan agama ini dan bukan malah sebaliknya
coba kita bandingkan dengan kondisi pada tahun-tahun sebelumnya saat kita mungkin belum mempunyai apa-apa, bandingkan dengan kondisi saat ini, jangan-jangan semakin kita diberikan tambahan rezeki (berupa kesehatan, harta dll) tapi kita malah semakin lalai, semakin jauh dari Nya, kalau kondisi ini yang terjadi (mungkin saja) harta kita tidak berkah dan secara tidak langsung sesungguhnya kita sedang menunggu azab Allah datang kepada kita tanpa kita sadari.
Hal ini banyak terjadi kepada rekan-rekan pengusaha, sempat mengalami 'kesuksesan' pada posisi puncak atau rekan-rekan profesional yang pernah sampai posisi puncak karir, namun secara tiba-tiba di 'nol' kan bahkan berada pada kondisi mnus (red kebangkrutan yang luar biasa)

mumpung belum terlanjur, mari kita kembali kepada Nya... 
Allah dulu...Allah lagi....Allah terus...
seperti syair di bawah ini

kusadari akhirnya kerapuhan imanku
telah membawa jiwa dan ragaku
ke dalam dunia yang tak tentu arah
kusadari akhirnya kau tiada duanya
tempat memohon beraneka pinta
tempat berlindung dari segala mara bahaya
oh tuhan mohon ampun, atas dosa dan dosa selama ini
aku tak menjalankan perintahmu tak pedulikan namamu
tenggelam melupakan dirimu
oh tuhan mohon ampun atas dosa dan dosa
sempatkanlah
aku bertobat hidup di jalanmu, tuk penuhi kewajibanku
sebelum tutup usia kembali padamu


LABBAIK ALLAHUMMA LABBAIK (KAMI DATANG MEMENUHI PANGGILAN-MU)

Memenuhi Panggilan Allah
Haji secara umum berarti menyengaja untuk menuju Tanah Suci Makkah dalam rangka memenuhi panggilan Allah swt. Kalimat Labbaik Allahumma Labbaik, labbaika la syarika laka labbaik inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulk la syarika laka yang dikenal dengan istilah talbiyah adalah senandung para jamaah haji.
Makna dari talbiyah secara umum adalah sebagai berikut :
1. Labbaik Allahumma Labbaik, artinya adalah kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah.
2. Labbaika la syarika laka labbaik, artinya tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu.
3. Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka, artinya sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.
Apa yang disenandungkan oleh para jamaah haji ini mengandung unsur yang fundamental dalam ajaran Islam. Janji untuk memenuhi panggilan Allah -jika keluar dari lubuk hati yang paling dalam- akan memotivasi jamaah melaksanakan haji dengan sungguh-sungguh, dan berusaha melaksanakan alfabeta kegiatan haji dengan semaksimal mungkin.
Pernyataan untuk tidak menyekutukan Allah, akan membuat para jamaah haji berhati-hati dari segala macam praktik yang berbau syirik. Banyak tempat di tanah haram yang secara sembrono diyakini orang dapat mendatangkan kebaikan dan menolak musibah, padahal kenyataannya tidaklah demikian dan tak ada dalil yang menyatakan hal itu. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan komitmen tidak menyekutukan Allah, jamaah haji bisa kehilangan pahala ibadahnya .
Sedangkan pernyataan bahwa pujian, nikmat dan kerajaan hanya milik Allah akan menjadikan para jamaah haji sebagai tamu-tamu Allah yang baik, tidak congkak dan selalu sadar akan kelemahan dirinya yang sangat memerlukan bimbingan dan pengayoman dari Allah.

Menabur Amal, menuai fitrah
Ibadah haji merupakan ajang bagi para jamaah untuk menabur benih amal. Banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan selama berada di sana, diantaranya;
1. Melaksanakan shalat berjamaah secara rutin di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, karena pahalanya sangat besar. Ada sebagian jamaah haji yang hanya bersemangat melaksanakan shalat berjamaah di masjid nabawi karena ada hadits tentang fadhilah shalat arbain, tetapi di saat tiba di Makkah mereka lebih memilih shalat di pondokan daripada berjama’ah di Masjidil Haram. Pandangan ini adalah keliru, karena shalat di Masjidil Haram pahalanya lebih banyak daripada shalat di tempat manapun juga.
2. Melaksanakan ibadah haji dengan persiapan ilmu yang baik. Sebuah ibadah akan membuahkan hasil dan diterima oleh Allah Swt. jika memenuhi dua syarat, yaitu; niat yang ikhlas dan mencontoh Rasulullah saw dalam tatacaranya. Untuk ibadah haji, Rasulullah saw bersabda : “Ambillah dariku tatacara ibadah haji kalian”. Sejak melakukan ihram untuk haji di hari tarwiyah, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan pulang lagi ke Mina untuk melempar jumrah sughra, wustha dan aqabah (kubra), serta thawaf ifadhah adalah kesempatan besar untuk meraih pahala dan keampunan dari Allah swt, jika ibadah haji dilandasi dengan ilmu.
Ada sebagian jamaah yang mengabaikan tatacara Rasulullah ini. Pada hari ke delapan yang seharusnya mabit di Mina ada yang langsung berangkat ke Arafah. Setelah meninggalkan Arafah kewajiban yang seharusnya adalah mabit di Muzdalifah. Tetapi dalam praktiknya ada sebagian jamaah yang hanya mengambil dan mengumpulkan kerikil di Muzdalifah lalu berangkat dan bermalam di Mina.
3. Banyak berdoa kepada Allah swt untuk kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. Di sela-sela ayat tentang ibadah haji (QS. Al-Baqarah : 197-203), Allah swt mengelompokkan orang yang berangkat haji dalam dua kategori besar. Kategori itu berdasarkan kecenderungan doa yang mereka panjatkan kepada Allah. Ada orang yang berangkat haji dengan harapan agar hartanya semakin berkembang, tetapi kata Allah, kelompok ini secara pasti tidak akan mendapatkan bagian apa pun di akhirat. Bahkan bagian mereka di dunia pun belum pasti. (QS. Al-Baqarah: 200) Kelompok ke dua adalah orang yang berangkat haji untuk mendapatkan kebaikan hidup dari Allah baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Kelompok ke dua ini Insya Allah akan mendapatkan bagian dari apa yang mereka usahakan. (QS. Al-Baqarah: 201) Diantara tempat paling penting untuk berdoa adalah saat berada di Arafah.

Apa Setelah Haji ?
Besarnya jumlah jamaah haji setiap tahunnya merupakan aset yang sangat potensial bagi kemajuan umat Islam di Indonesia. Tapi berapa pun jumlah jamaah haji, pengaruhnya tidak akan efektif bagi perkembangan dan kemajuan umat jika tidak disertai pembinaan yang baik dan sempurna bagi mereka khususnya dari pemerintah -dalam hal ini Departemen Agama- dan biro-biro perjalanan haji. Para jamaah harus memiliki wawasan Islam yang cukup untuk membangkitkan semangat mereka dalam melakukan dakwah di masyarakatnya yang diikuti dan diteladani setelah pulang dari melaksanakan ibadah haji.
Kesucian fitrah yang diraih oleh jamaah haji tidak akan bertahan lama manakala tiba ke daerahnya dia kembali harus mengarungi kehidupan di tengah suasana yang tidak mendukung kesucian fitrah. Selama berada di tanah suci para jamaah telah merasakan keindahan shalat berjamaah, kedamaian suasana ibadah, dan keteduhan jiwa mendengarkan lantunan pesan ilahi. Para jamaah juga menyaksikan kebersihan lingkungan dari pornografi dan tempat-tempat maksiat. Pasar-pasar dihiasi dengan lantunan Al-Qur'an. Para jamaah pasti menikmati suasana tersebut. Pertanyaan yang perlu direalisasikan bersama adalah; bagaimana upaya kita memindahkan suasana kedamaian dan keteduhan tanah suci itu ke negeri tercinta yang sedang galau ditimpa oleh berbagi macam masalah ini ?

(Harjani Hefni - Tafakkur Edisi 174)
sumber: http://www.ikadi.or.id/index.php?option=com_content&id=101:labbaik-allahumma-labbaik&catid=41:tafakkur&Itemid=72

TENTANG BKPRMI (BADAN KOMUNIKASI PEMUDA REMAJA MASJID INDONESIA)

Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) semula bernama Badan Komunikasi Pemuda Masjid (BKPMI) lahir di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Jawa Barat, Jalan L.R.E Martadinata (Jl Riau, saat Itu) pada tanggal 19-21 Ramadhan 1397 H / 3-5 September 1977 M. Dalam suatu pertemuan pemuda masjid Bandung di bawah asuhan Ketua Umum MUI Jawa Barat Saat itu Yakni K.H. E.Z. Muttaqien.Tokoh-tokoh pemuda masjid pada saat itu, diantaranya Toto Tasmara, Bambang Pranggono, Samsudin Manaf, Iskandar Maskun, dan lain-lain. Dalam rapat pembentukan pengurus BKPMI periode pertama, Toto Tasmara terpilih sebagai Ketua dan Bambang Pranggono sebagai Sekertaris Jenderal. Rapat pembentukan dan pelantikan pengurus BKPMI periode I itu di lakukan di Masjid Istiqomah Bandung.Pada saat pelantikan pengurus tersebut, hadir beberapa tokoh pemuda Masjid dari Jakarta, Jogyakarta, dan Semarang. Mengingat Pengurus Periode I ini berkedudukan di Bandung, maka Sekretariat BKPMI pertama kali terletak di Bandung, yakni di Gedung Sekretariat MUI Jawa Barat. Kemudian berpindah mengikuti sekretariat MUI Pusat. Tahun 1986 di Masjid AL-Azhar, Jakarta , dan mulai tahun 1989 sampai sekarang di Masjid Istiqlal.
BKPMI kemudian berkembang menjadi organisasi yang solid bersama derap perjuangan dakwah Islam di Indonesia. Karena itu, ia bergerak pula bersama dinamika kehidupan bangsa Indonesia, baik sosial kemasyarakatan, khususnya ummat Islam, maupun perkembangan ‘pembangunan’ politik bangsa Indonesia. Salah satu ‘karya besar’ BKPMI adalah di canangkannya pembentukan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) sebagai program nasional BKPMI dalam Musyawarah Nasional V BKPMI di Masjid Al-Falah Surabaya tahun 1989. Dalam MUNAS V ini, hadir memberi pengarahan beberapa pejabat tinggi negara, seperti Menteri Agama (Prof. DR. H. Munawir Sadzali) dan Menteri Penerangan (H. Harmoko). Program TKA ini kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Lembaga Pembinaan dan pengembangan TKA (LPPTKA) BKPMI dalam rapat pleno DPP BKPMI di Jakarta.


DARI BKPMI KE BKPRMI
Perubahan dari Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) ke Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dilakukan dalam Musyawarah Nasional VI tahun 1993 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, bersamaan dengan bergabungnya Forum Silaturahmi Remaja Masjid (FOSIRAMA) di bawah pimpinan DR. H. Idrus Marham, M.A. (Ketua Umum DPP BKPRMI yang lalu).
Bersamaan dengan perubahan nama organisasi, dalam MUNAS VI ini pula di sepakati, bahwa BKPRMI merupakan lembaga otonom dari organisasi Dewan Mesjid Indonesia (DMI). Selain itu, di bawah pengurus BKPRMI terbentuk beberapa Lembaga Pembinaan dan Pengembangan, seperti Da’wah dan Pengkajian Islam (LPP-DPI), Sumber Daya Manusia (LPP-SDM), Ekonomi Koperasi (LPP-EKOP), Dan Keluarga Sejahtera (LPP-KS). Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Ketahanan Santri (LKS), terbentuk dalam suatu rapat pleno DPP pasca MUNAS VI.
Secara struktural BKPRMI terdiri secara berjenjang mulai dari DPP (Dewan Pengurus Pusat) yang bersekretariat di Masjid Istiqlal Jakarta, kemudian DPW (Dewan Pengurus Wilayah) untuk tingkat Propinsi, DPD (Dewan Pengurus Daerah) untuk tingkat Kabupaten, DPK (untuk tingkat Kecamatan) dan sub koordinasi DPK mempunyai DPDesa untuk koordinasi di tingkat Desa. 



DPK (DEWAN PENGURUS KECAMATAN) BKPRMI SLEMAN
Secara geografis, berbicara Kecamatan Sleman terasa spesial, karena berbicara tentang ‘ibu kota’ Kabupaten Sleman sehingga layaknya sebuah ‘ibukota’ di tempat inilah pusat kegiatan dan aktivitas berlangsung, Kecamatan Sleman memiliki 5 Desa (Tridadi, Trimulyo, Triharjo, Caturharjo dan Pandowoharjo), begitu pula dengan DPK BKPRMI Sleman memiliki 5 DPDesa yang mewakili BKPRMI di masing-masing Desa. Pengurus DPK BKPRMI Sleman berasal dari 5 Desa di Kecamatan Sleman. Data masjid di wilayah kecamatan sleman sendiri berjumlah 106 masjid yang tersebar di 5 Desa neliputi 21 Masjid di Desa Tridadi, 23 Masjid di Triharjo, 17 Masjid di Trimulyo, 22 Masjid di Caturharjo dan 23 Masjid di Pandowoharjo. 
Kemudian berbicara mengenai bagaimana DPK BKPRMI Sleman sejenak kami perkenalkan teks Mars BKPRMI yang setidaknya dapat memberi gambaran tentang BKPRMI.
Pemuda remaja marilah bergabung, didalam BKPRMI kita berhimpun

kembali ke masjid mari membangun, masyarakat marhamah tujuan kita semua
Jadilah muwahid pemersatu ummat, Jadilah mujahid pembela kebenaran
musyaddid muaddib, pelurus dan pendidik, sebagai mujaddid pemelihara iman.

Kami (BKPRMI) mengajak kepada seluruh Pemuda Islam dan Remaja Masjid untuk bergabung berhimpun dalam 1 barisan bersama kami, melalui slogan Back to Masjid kami berusaha mengajak kembali ke masjid mengembalikan kejayaan islam dan membangun masyarakat dan umat melalui masjid seperti telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para shahabat terdahulu. Dalam kegiatan kami, insan BKPRMI diharapkan menjadi Muwahid sang pemersatu umat, kita sudah terlalu lama terpecah belah oleh golongan A golongan B dan tidak jarang perpecahan ini mengganggu harmonisasi kehidupan, sehingga DPK BKPRMI Sleman berusaha menyatukannya dalam 1 barisan. Barisan Pemuda Islam dan Remaja Masjid Indonesia. Insan BKPRMI juga diharapkan menjadi Mujahid (Pembela Kebenaran) yang mampu Amar Ma’ruf Nahyi Munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan munkar menjadikan masyarakat islami yang mampu membangun negeri.

Insan BKPRMI juga diharapkan mampu menjadi mussaddid muaddib (Pelurus dan Pendidik) yang melakukan fungsi membina, menjadi guru, menjadi pencerah dan membangun peradaban islam yang rahmatan lil ‘alamin. Selanjutnya insan bkprmi juga diharapkan menjadi mujadid (pemelihara iman) khususnya di kalangan pemuda remaja yang menjadi tantangan terberat. Pembangunan insan melalui masjid inilah yang nantinya menjadi kontribusi dari kami. 

DPK Sleman memiliki 3 bidang (Bidang Syiar, Bidang Media, Bidang SDM) dan 1 unit koodinasi bernama DPDesa yang memiliki 5 wilayah (Tridadi ,Trimulyo,Triharjo, Caturharjo,Pandowoharjo)

DPK BKPRMI Sleman melalui bidang syiar memiliki agenda rutin yaitu KAP (Kajian Ahad Pagi) yang dilaksanakan 2 minggu sekali dengan sistem safari (berpindah tempat), bagi rekan-rekan remaja masjid yang berkenan menjadi tuan rumah Kajian Ahad Pagi silahkan menghubungi nomor DPK bkprmi Sleman. Kemudian DPK Sleman melalui bidang SDM memiliki lembaga training yang insyaAllah siap membantu training indoor maupun outbond dari rekan-rekan remaja masjid, sedangkan bidang media BKPRMI memiliki tim kreatif dan ahli IT yang mampu membangun media komunikasi BKPRMI, bagi rekan-rekan remaja masjid yang ingin belajar tentang IT (website dan lain sebagainya) dapat menghubungi teman-teman dari tim media DPK BKPRMI Sleman. Selain itu semua, kami memiliki tim Stand Up of Ngaji (Dakwah) yang merupakan terobosan dari rekan-rekan BKPRMI untuk dapat menyentuh semua lapisan dalam menyampaikan syiarnya, bagi rekan-rekan yang ingin mengundang tim Stand Up of Ngaji (Dakwah) dari DPK BKPRMI Sleman insyaAllah kami siap membantu.

Sekian 

Nuri Ardiansyah
Ketua DPK BKPRMI SLEMAN



Mengatasi “Can’t Set Default Printer” "Error 0x00000709"

Pengalama 2 hari ini 'digladi' oleh permasalahan printer, setelah hari kemarin sharing printer dari windows 7 ke 8 yang mbah google pun masih bingung,hehe... hari ini mendapat kasus  “Can’t Set Default Printer”  "Error 0x00000709" 
permasalahan ini cukup membingungkan karena ketika dlakukan tes printer normal. tetapi untuk meakukan print dari office tidak bisa... langkah standar sudah dilakukan dengan mengganti nama printer yang disharing kan dari komputer server, namun keika sudah berhasil dilakukan connecting dan di re-start komputernya, mbalik lagi kasus nya dari awal, untung ga keringetan karena di dalam ruang AC,hehe...
Masalah utamanya adalah jika kita  set default pada printer tersebut muncul pesan error "Error 0x00000709: “Can’t Set Default Printer” "
saya coba berbagai cara, setelah membaca beberapa literatur saya menemukan bahwa permasalahannya berada pada registry yg masih menyimpan data printer lain yang sebelumnya di set default.

Nah berikut ini Solusinya:
1. Klik start=> run => ketik"regedit" (tanpa tanda petik) 
2. Pilih HKEY_CURRENT_USER =>Sotfware=>Microsoft=>Windows NT=>CurrentVersion=>Windows.
3. Setelah itu lihat di panel bagian kanan pilih "Device" double klik akan muncul printer yang sebelumnya diset sebagai default printer.
4.Delete "device" 
atau jika tidak bisa delete setting "Permision" terlebih dahulu 
caranya 
1. Klik kanan pada windows NT (di sebelah kiri) -> pilih "Persmision" kemudian centang bagian "full Controls" 
2. Baru kemudian Delete Default printer anda

Terakhir, Restart Komputer anda
InsyaAllah sudah beres :)

litertur yg saya baca:
http://trikntrik-komputer.blogspot.com/2014/01/error-0x00000709-cant-set-default.html